Kali ini saya berada di Kota Padang (Padang), Sumatera Barat! Dalam enam bulan ini, saya memang sedang bolak-balik Jakarta-Padang di mana saya terlibat dalam proses penyusunan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataa Daerah atau RIPPARDA Kota Padang untuk 15 tahun ke depan. Saya tidak bekerja sendirinya tentunya, melainkan bersama tim ahli lain bersama BAPPEDA Kota Padang.

Saya mencoba mengingat kembali persepsi saya terhadap rempah-rempah ketika masih kanak-kanak dan remaja dulu. Suatu momen di mana saya duduk dengan manis mendengarkan penjelasan tentang rempah-rempah yang menjadi komoditi di masa penjajahan.

Buku ketiga saya yang masih bertema soal pariwisata akhirnya terbit tahun 2015 ini: Porn(O) Tour (Metagraf/Tiga Serangkai). Sebagai traveler saya pikir kita perlu mencoba jujur. Ah, setidaknya buat saya saja dulu. Apalagi sebagai orang yang bukan cuma doyan jalan-jalan, tetapi belajar dan kadang bekerja di bidang pariwisata. Kesadaran datang dengan pengetahuan yang sedang saya coba untuk tidak disepelekan. Jadi bagaimana awalnya semua bermula?

Saya jatuh cinta dengan kain. Ini bukan cuma soal keindahan, tetapi mulai dari asal-usul, teknik pembuatan, proses pewarnaan alami, sosok perempuan sebagai tukang kain (penenun/pembatik), makna di balik motif, hingga fungsi dan penggunaan kain yang membuat saya takjub. Ada banyak hal yang spesial tentang tradisi kain-kain di Nusantara. Dan tentu saja hal yang lebih dari sekadar menarik untuk saya kagumi dan pelajari.