Written by 

Tradisi Kain dan Semesta

Diskusi bersama para penenun dari Maumere di Dia.Lo.Gue Artspace, Kemang
Diskusi bersama para penenun dari Maumere di Dia.Lo.Gue Artspace, Kemang Photo by Noesa Satu

Saya jatuh cinta dengan kain. Ini bukan cuma soal keindahan, tetapi mulai dari asal-usul, teknik pembuatan, proses pewarnaan alami, sosok perempuan sebagai tukang kain (penenun/pembatik), makna di balik motif, hingga fungsi dan penggunaan kain yang membuat saya takjub. Ada banyak hal yang spesial tentang tradisi kain-kain di Nusantara. Dan tentu saja hal yang lebih dari sekadar menarik untuk saya kagumi dan pelajari.

Tentang batik mungkin saya merasa itu hal yang menjadi biasa karena latar belakang keluarga yang murni leluhur Jogja. Namun kecintaan saya dengan kain justru bermula ketika saya mengenal dan bekerja bersama Irma Hutabarat. Mima, begitu saya akrab menyapanya, pada tahun 2011 mendirikan organisasi budaya bernama Miyara Sumatera Foundation (MSF) di mana kemudian saya ikut bekerja di dalamnya dan menjalin persahabatan bersama Veronica Iswinahyu (Pheo), Shinta Dewi (Shinta), Helen Hutabarat (Nantul), Iwan, dan sahabat-sahabat lain. Selain rajin mengoleksi kain-kain, Mima dan tim MSF kala itu menginisiasi program untuk kain-kain Sumatera. Saya dan Mima aktif mengkaji kain-kain. Kami bahkan sempat menelusuri Kalianda di Lampung Selatan untuk menggali tradisi tentang kain kapal yang telah punah.

Aktivitas terkait kain yang MSF lakukan beragam. Saya paling semangat kalau Mima sedang membongkar lemari koleksi kainnya di mana saya bisa berinteraksi dengan kain-kain tenun tua miliknya. Saya dan Mima aktif mengkaji kain dan menulis tentang kain untuk berbagai publikasi media. Kami juga melakukan serangkaian kampanye dengan melakukan diskusi dan pameran di komunitas maupun ruang-ruang budaya atau galeri. 

Suatu ketika, kami mendapat kesempatan untuk bekerja sama dengan Museum Tekstil Jakarta untuk melakukan pameran dan diskusi. Persahabatan saya dengan Museum Tekstil Jakarta pun berlanjut. Semua berkat kecintaan saya terhadap kain. Berpisah dengan MSF di tahun 2013, tak membuat aktivitas saya dengan kain terhenti.

Bersama Museum Tekstil Jakarta, saya sempat melakukan riset terkait sejarah dan perkembangan songket (dan kain tenun lainnya) di tiga provinsi: Bengkulu, Jambi, dan Sumatera Barat. Dokumen penelitian tentang kain di tiga provinsi tersebut menjadi kontribusi saya untuk konservasi kain di museum. Selain beberapa kali menulis untuk Jurnal Wastra, sebuah publikasi dua bahasa (Bahasa Indonesia dan Inggris) berisi hasil penelitian dan informasi tentang kain yang diterbitkan Museum Tekstil Jakarta, saya juga aktif membantu museum dengan menjadi moderator pada berbagai Bincang Wastra.

Kain terus menjadi hal yang menarik untuk saya telusuri ke mana pun saya pergi. Buat saya, kain ibarat kitab yang menyimpan tafsir melampaui dimensi ruang dan waktu. Kain bagai semesta di mana saya dapat belajar banyak hal tentang spiritualitas, peradaban, budaya, dan kehidupan itu sendiri. Maka, pada setiap perjalanan yang saya lakukan, perhatian terhadap kain tak pernah luput untuk sekadar melakukan kunjungan atau memulai obrolan dengan penenun. Karena tak selalu juga saya memiliki cukup uang untuk membeli, apalagi menjadi kolektor kain. Tetapi soal cinta ini bukan mengenai ego untuk memiliki. Jadi saya menikmati untuk melakukan perjalanan, penelitian, atau mungkin berbincang dengan siapa pun mengenai kain. Atau mungkin kita bisa memikirkan dan melakukan upaya bersama untuk pelestarian kain. Kenapa tidak?! Melibatkan banyak kawan dengan beragam latar belakang adalah hal yang buat saya penting dan pastinya menyenangkan.

Saat ini dan entah sampai kapan, saya masih senang mendatangi pameran-pameran kain di Museum Tekstil Jakarta atau di mana saja. Pula menjadi relawan yang ikut berupaya melestarikan tradisi kain melalui diskusi, tulisan, atau apapun yang mampu saya kontribusikan.

socialshare

share on facebook share on linkedin share on pinterest share on youtube share on twitter share on tumblr share on soceity6