Written by 

Support Slow Traveling

Diskusi tentang backpacker dan #TourismEthics di Universitas Sahid, Jakarta
Diskusi tentang backpacker dan #TourismEthics di Universitas Sahid, Jakarta

Buku ketiga saya yang masih bertema soal pariwisata akhirnya terbit tahun 2015 ini: Porn(O) Tour (Metagraf/Tiga Serangkai). Sebagai traveler saya pikir kita perlu mencoba jujur. Ah, setidaknya buat saya saja dulu. Apalagi sebagai orang yang bukan cuma doyan jalan-jalan, tetapi belajar dan kadang bekerja di bidang pariwisata. Kesadaran datang dengan pengetahuan yang sedang saya coba untuk tidak disepelekan. Jadi bagaimana awalnya semua bermula?

Adalah pengalaman mengunjungi Borobudur ketika Perayaan Waisak dan perjalanan menyinggahi Bromo yang menjadi inspirasi dan energi saya untuk menuliskan naskah buku Porn(O) Tour pada awalnya. Usai menjadi naskah, entah kemudian proses kelahirannya menjadi sebuah buku menjadi mudah. Tetapi permulaannya justru baru dimulai ketika buku tersebut muncul di toko buku.

"Porn!"

Kata tersebut seringkali terpikir saat traveling ketika melihat kejadian nyata yang tidak menyenangkan selama jalan-jalan di berbagai destinasi, termasuk perilaku turis.

Di balik hotel atau resort mewah, tersembunyi perkampungan kumuh. Di antara pantai indah berpasir putih, semak-semak dan ilalang sengaja ditanam agar menutupi bak yang melumerkan ceceran sampah plastik dan kemasan makanan-minuman. Ada yang mengaku backpacker, tapi ogah berdesakan naik angkot. Gerombolan turis curi-curi kesempatan lalu asyik jeprat-jepret tanpa permisi terhadap warga lokal yang sedang berdoa di tempat ibadah. Lalu berbagai fenomena lain pada kawasan yang menjadi destinasi pariwisata, mencakup kemiskinan, pelacuran, kriminalitas, perdagangan ilegal, kerusakan lingkungan... Tindakan-tindakan tersebut dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Juga coba ditutup-tutupi oleh pihak pengelola jasa layanan wisata. Seperti halnya pornografi. Ketelanjangan bisa dilabeli porno! Padahal ketelanjangan bisa jadi adalah kejujuran.

Tapi pada akhirnya, kita bisa menyadari kalau “ke-porno-an” terjadi sebagai akibat kesalahan dalam mengelola pariwisata. Juga perilaku turis yang menyangkal dari tanggung jawab atau enggan menerapkan prinsip etika selama melakukan perjalanan! Pada suatu kesempatan, saya harus akui kalau situasi bisa mendesak saya - sebagai wisatawan - untuk ikut terlibat dalam tindakan eksploitatif atau perilaku porno selama berwisata.

Menjadi porn tourist! Bukan hal yang patut dicontoh, selain sekedar pembelajaran.

Traveling adalah aktivitas wisata. Pariwisata merupakan industri karena pada proses perjalanan terdapat beragam elemen yang bersinggungan dan memberikan dampak ekonomi, sosial-budaya, dan lingkungan. Sebagai traveler, kita pun memainkan peran sebagai wisatawan atau turis. Tak ingin disebut turis? Kalau begitu apakah mungkin selama melakukan perjalanan kita tidak melakukan konsumsi pada elemen-elemen pariwisata: transportasi, akomodasi, menikmati suatu atraksi dan aktivitas (daya tarik wisata), menggunakan infrastruktur, fasilitas atau jasa lainnya, serta berhubungan dengan organisasi/lembaga/institusi tertentu? Ya, dalam konteks itulah kita berstatus sebagai wisatawan dengan keberagaman karakter dan motivasi. Menjadi musafir, backpacker, explorer, adventurer, leisure tourist... apapun itu adalah soal style dan ideologi dalam traveling. Kita tak bisa mengklaim diri sebagai masyarakat yang menetap di suatu wilayah. Turis adalah pelaku perjalanan secara sementara.

Ketika melakukan perjalanan, sebagai turis kita bisa saja terpengaruh oleh travel photo pada kartu pos, brosur pariwisata, iklan komersil, status kawan yang diunggah pada media sosial, blog jalan-jalan, maupun cerita si A tentang destinasi ini, cerita si B tentang destinasi itu atau suatu tempat yang belum banyak diceritakan orang. Sebagai calon turis, kita memiliki sebuah mimpi terhadap pengalaman pada suatu perjalanan. Traveling pun dimulai. Tapi segala harapan bisa kandas layaknya cerita si A atau si B tentang tempat yang kemudian kita kunjungi. Ada banyak hal yang tak tampak di suatu destinasi. Hal yang ditutupi. Begitu pula ada banyak hal yang tak diungkapkan mereka yang telah melakukan perjalanan yang mungkin saja menikmati kesalahan yang telah dilakukannya, namun tak hendak diungkapkan.... Sebuah ego dalam diri wisatawan yang sebetulnya - sadar atau tidak sadar - telah menimbulkan kerusakan bagi suatu wilayah maupun komunitas lokal.... Bahwa perjalanan tak melulu menyoal diri kita sebagai wisatawan, tetapi juga kehidupan orang lain!

Usai melakukan perjalanan ke Bromo, saya menuliskan pengalaman dan mengumpulkan kembali berbagai catatan perjalanan. Mengapa berbagi pengalaman? Karena saya percaya bahwa perjalanan seharusnya dapat memberikan dampak positif bagi wisatawan maupun masyarakat dan kawasan yang kita kunjungi. Etika dalam berwisata. Tentang perlunya bersikap kritis dan berperilaku penuh tanggung jawab.

Terbitnya Porn(O) Tour membawa saya pada sebuah motivasi baru, yaitu berusaha mengampanyekan tentang pentingnya #TourismEthics. Maka pada setiap kesempatan atau undangan diskusi buku, saya sebisa mungkin mengajak siapa pun untuk menyadari pentingnya makna etika dan menerapkan etika dalam setiap perjalanan. Tentu saja kita ingin apa yang kita lihat dari keindahan suatu destinasi kelak dapat kembali kita kunjungi. Mengabarkan pada keluarga atau kawan untuk bisa menikmatinya juga. Atau jika mau sedikit berupaya, kita semua berharap dapat melakukan hal terkecil dari apa saja yang bisa kita lakukan untuk sebuah perubahan yang positif dan lebih baik dalam mendukung gelombang pariwisata alternatif (slow traveling) dan pembangunan yang berkelanjutan (sustainable tourism development).

socialshare

share on facebook share on linkedin share on pinterest share on youtube share on twitter share on tumblr share on soceity6