Written by 

Menjadi dosen tamu di Politeknik Negeri Padang!

Kali ini saya berada di Kota Padang (Padang), Sumatera Barat! Dalam enam bulan ini, saya memang sedang bolak-balik Jakarta-Padang di mana saya terlibat dalam proses penyusunan Rencana Induk Pembangunan Kepariwisataa Daerah atau RIPPARDA Kota Padang untuk 15 tahun ke depan. Saya tidak bekerja sendirinya tentunya, melainkan bersama tim ahli lain bersama BAPPEDA Kota Padang.

Di sela-sela kegiatan itulah saya berjumpa dengan Arni Utama Ningsih yang akrab saya panggil Bu Arni. Beliau adalah dosen untuk Program Studi Usaha Perjalanan Wisata di Politeknik Negeri Padang yang berada masih dalam satu kesatuan area di Universitas Andalas. Pada suatu kesempatan, Bu Arni mengajak saya untuk bisa berbagi dengan teman-teman mahasiswa di tempatnya mengajar.

Undangan itu pun datang. Saya berkesempatan menjadi dosen tamu. Meski agak mendadak karena perlu menyesuaikan dengan jadwal kunjungan di Padang, tapi akhirnya momen itu datang juga. Kegiatan tersebut dilangsungkan pada Kamis, 27 Juli 2017 yang lalu di Kampus Politeknik Negeri Padang. Usai dibuka oleh wakil direktur kampus, Bu Rini sebagai Ketua Program Studi Usaha Perjalanan Wisata hadir untuk memandu diskusi. Acara dihadiri sekitar 80 mahasiswa yang berada pada level tahun pertama dan tahun terakhir perkuliahan.

Saya mengawali materi dengan membahas dan mendiskusikan bersama topik tentang awal mulai kemunculan industri pariwisata: mass tourism versus alternative tourism. Menarik sekali karena kawan-kawan mahasiswa tahun pertama begitu antusias untuk berpendapat!

Pariwisata harus bisa memberi manfaat bagi masyarakat, ucap seorang mahasiswa perempuan. Kita sepakat. Dan dia mengutarakan lebih banyak pendapat tentang bagaimana pariwisata di Padang masih belum cukup dipahami oleh masyarakat lokal dan masyarakat adat.

Belum banyak kegiatan pemberdayaan tentang pariwisata untuk masyarakat di Padang. Beberapa mahasiswa mulai berkomentar.

Selain saling berbagi pandangan tentang kritik terhadap corak pariwisata modern, kami juga berdiskusi tentang prinsip-prinsip etika pariwisata (tourism ethics) yang telah saya singgung sebelumnya melalui sebuah buku, yakni Porn(O) Tour. Banyak dari mereka memiliki antusias yang tak kecil untuk mendiskusikan hal tersebut. Saya kagum dengan pertanyaan maupun opini kritis mereka tentang banyak hal.

Tentang masyarakat lokal yang belum memahami bagaimana cara memperlakukan turis yang datang. Tentang infrastruktur pariwisata di Padang. Tentang perhatian terhadap pelestarian budaya Minang. Tentang bagaimana mereka kelak bisa ikut terlibat mengembangkan geliat pariwisata di masa mendatang….

Acara yang semula direncanakan hanya berlangsung sekitar 1,5 jam pun terpaksa berakhir hingga dua jam lebih karena kami membuka ruang diskusi yang berlangsung dengan santai dan begitu kaya.

Usai memberikan kuliah yang lebih tepat disebut diskusi santai bersama, saya mengobrol sejenak dengan para mahasiswa dan dosen yang telah banyak mengunjungi tempat-tempat menarik di Padang dan sekitarnya. Saya pun berbagi rencana untuk mengunjungi berbagai daya tarik wisata yang foto-fotonya baru bisa saya saksikan di berbagai akun media sosial.

Maka berbekal informasi seadanya dari mereka, pada kunjungan saya ke Padang di saat yang bersamaan, saya pun memutuskan untuk pergi menuju Mandeh di Pesisir Selatan, Bukittinggi, hingga berkendara dengan motor menelusuri Puncak Lawang dan Danau Maninjau. Betapa saya kagum dengan keragaman sekaligus keindahan yang dimiliki oleh Sumatera Barat.

 

socialshare

share on facebook share on linkedin share on pinterest share on youtube share on twitter share on tumblr share on soceity6